The boring stories from my head wash away after the fight in my head, sit in a very peaceful paradise and come out to tell me a secret. I smile a bit while answering questions I've never known before.
tags
# tutorials # freebies # anime! # music # in my head # life story
blog archive
attendance
If you read this, please interact or leave your footprint here! Put yo name and URL so I can visit you back someday <3

twitter
signal baby
CREDITS
© 2015 - Layout by blogskins, pattern from nurulatiqahjaidin, emoji from pixeldiary. BEST VIEWED ON GOOGLE CHROME.
Brain dump about my career path + colle journey Friday, July 1, 2022 0 comment


HI! Post ini bakal ngerusak kekonsistenanku untuk nulis blog penuh dengan bahasa Inggris, soalnya aku lagi mumet―males mikir, nyusun kalimat, cek grammar, dan sebagainya. Jadi, hari ini aku mau pakai bahasa sehari-hari aja.

Sejak kecil, cita-cita kita bisa terus berubah, kan?

Aku merasa bimbang karena selalu menjadi di tengah-tengah antara bisa, tapi bukan yang sejago itu untuk dibilang bisa. Bukan juga dibilang nggak bisa sama sekali. Setelah aku tarik benang merahnya, menurutku ini akibat satu prinsip yang awalnya terdengar manis karena terdengar penuh kerja keras, yaitu terus berusaha mencoba banyak hal. Bisa banyak hal, but if you are a master of none, what are you going to do?

Okay, mulai dari SMP ketika aku bingung mau lanjut ke SMA atau SMK. Rencanaku saat itu kalau aku masuk SMK, aku mau daftar di jurusan RPL karena aku lumayan suka hal yang berkaitan dengan program komputer (bruh I made this blog with full of Javascript/CSS code). Masuk SMK itu cuma rencana sampingan semisal aku harus lanjut bekerja, seenggaknya di SMK aku sudah pasti PKL sebelum beneran terjun di dunia kerja. Pada akhirnya, aku memutuskan masuk SMA dengan kegalauan "Aku bakal masuk kelas IPA atau IPS, ya?" 

Waktu SD, aku berpikiran kalau sudah dewasa nanti, aku mau kuliah DKV karena aku suka dunia kreatif. Pemikiran ini juga dimotivasi sama konten kreator kesukaanku dulu, Aulion. Dia bilang lagi kuliah DKV. Sesuai denganku yang suka menggambar, menyusun komik, dan merangkai kerajinan. Terlebih aku pernah menjuarai lomba membatik. Hal itu membuatku semakin yakin kalau passionku memang disini. Oh my precious elementary era.

Beranjak SMP, aku bergabung ke ekskul PMR dan mengambil hasta karya sebagai bidangku. Saat itu aku justru mengeksplor lebih banyak hal. Sebagai anggota ekskul PMR, aku harus bisa dasar pertolongan pertama, dan itu seru sekali! Di lomba PMR perdanaku, aku ikut bidang baca puisi (karena waktu SD aku pernah juara juga) bahkan kali ini mendapatkan juara pertama. Aku yang awalnya cuma tertarik dengan karya sastra dan puisi, malah semakin suka setelah aku beberapa kali memenangkan lombanya. 

Selain PMR, aku juga bergabung ke ekskul English Club (atau English Conversation, ya?). Prestasiku di bidang ini benar-benar nggak kelihatan! Dari kecil aku sudah ikut course, dan berhenti di kelas 3 SD soalnya kelas 4-6 SD aku sudah fullday sampai sore. Menurutku itu belum cukup keren untuk mengaku 'bisa berbahasa Inggris' karena cuma berdampak ke nilai bahasa Inggrisku aja. Baru lah di penghujung kelulusan, aku diikutkan lomba storytelling sama guru bahasa Inggris yang tahu perkembanganku bahkan sejak aku ikut course!

Di SMA? Aku rasa malah semakin abstrak. Karena didasari rasa penasaran dan alasan yang "ingin mencoba hal baru" itu membuat range kemampuanku terlalu luas. Aku ikut ekskul basket kali ini, dan saat itu pelatih basket di SMA sering banget sounding supaya aku bertahan karena menurutnya posturku bagus kalau dikembangkan menjadi shooter (bro berpikir akan keren kalau menjadi Midorima). Di waktu yang sama, aku masih bergabung untuk lomba FLS2N. Dengan ketidakkonsistenanku, aku mundur dari ekskul basket. Selain karena merasa, olahraga bukan passionku yang harus aku dalami, aku merasa tertekan aja harus mengikuti pace latihan ekskul basket putri (yang sering dapat juara itu). Latihan bersama teman-teman yang sudah familiar sama basket dari SMP juga rasanya semakin tertekan untuk mengejar, bukan makin buat aku bersemangat. Akhirnya, kali itu aku  memutuskan lanjut di bidang seni dengan ikut cabang lomba baca puisi lagi. Karena pandemi masih berlangsung, lombanya diadakan langsung setingkat provinsi. Di pengumuman sih, namaku ada di urutan ke tujuh seprovinsi, tapi sedihnya aku nggak pernah dapat sertifikat yang menyatakan kalau aku masuk 10 besar (masih sedih). Di tahun berikutnya pun aku masih bergabung di tim FLS2N SMA... kali ini aku ikut desain poster yang sayangnya kurang dapat perhatian dan bimbingan, jadi benaran nggak dapat angka sama sekali.

Post a Comment

warning
>>